GOLFUSSID – Kritik bahwa taktik John Herdman monoton sebagian benar, sebagian tidak. Di laga pertama melawan Singapura, Indonesia memang terlalu bergantung pada crossing dari sisi kanan tanpa variasi . Namun di laga kedua melawan Malaysia, Herdman sudah mengubah pendekatan dengan kombinasi pendek di area tengah sebelum kartu merah Thom Haye mengubah total dinamika pertandingan .
Poin Penting:
- Kritik utama: serangan terlalu sering dari sisi kanan, kurang improvisasi, dan minim variasi .
- Herdman mengakui sendiri bahwa strategi menyerang dengan 10 pemain perlu dibenahi .
- Di laga kedua, Herdman mengubah komposisi dengan menurunkan Thom Haye dan mencoba kombinasi pendek di tengah .
- Kartu merah Haye di menit 37 adalah faktor besar yang mengubah rencana awal.
- Indonesia masih mengoleksi 4 poin dan peluang ke final masih terbuka.

Apa yang Di kritik dari Taktik John Herdman?
Dua laga awal Timnas Indonesia di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 menghasilkan 4 poin. Hasil ini secara matematis baik — Indonesia berada di posisi kedua dan peluang ke final masih terbuka .
Namun, performa di lapangan memunculkan pertanyaan. Beberapa pengamat menilai Herdman belum menunjukkan variasi yang cukup dalam pendekatan permainan.
Kritik Indra Rangkuti: Terlalu Bergantung Sisi Kanan
Indra Efendi Rangkuti, pengamat sepak bola Sumatera Utara, menyoroti pola serangan Indonesia yang terlalu sering mengandalkan sektor kanan. Menurutnya, sisi kiri kurang dimaksimalkan .
“Taktik Herdman cenderung monoton. Ia terlalu bergantung pada serangan dari sisi kanan, sementara sisi kiri kurang dimaksimalkan,” kata Indra .
Ia juga menilai minimnya improvisasi pemain. Pola permainan yang berulang — bangun serangan, kirim bola ke sisi kanan, lalu crossing — membuat serangan Indonesia mudah di prediksi.
Kritik Bung Ropan: Koordinasi Buruk Setelah Kartu Merah
Bung Ropan, pengamat sepak bola nasional, menyoroti hal berbeda. Ia menilai masalah utama bukan pada taktik awal, tetapi pada respons setelah kartu merah .
“Kita di paksa untuk bermain 10 orang, tetapi bermainnya memang sangat buruk. Fokus kita hanya bertahan,” ujar Bung Ropan .
Menurutnya, koordinasi antarpemain rusak setelah Indonesia kehilangan satu pemain. Bola yang berhasil di rebut sering langsung di buang ke depan tanpa sirkulasi yang baik.
Membandingkan Pendekatan Taktik di Dua Laga
Cara membaca tabel ini: Di laga pertama, Indonesia mengandalkan crossing sebagai senjata utama. Di laga kedua, Herdman mengubah pendekatan dengan menurunkan Thom Haye dan mencoba kombinasi pendek di area tengah . Perubahan ini terlihat di 25 menit pertama sebelum kartu merah mengubah segalanya.
Mengapa Laga Kedua Berbeda dari Laga Pertama?
Faktor Kartu Merah Thom Haye
Perubahan terbesar di laga kedua bukan berasal dari taktik, tetapi dari kartu merah Thom Haye di menit 37 . Sebelum insiden itu, Indonesia terlihat lebih variatif dalam membangun serangan.
Setelah Haye diusir, Herdman terpaksa menarik Ragnar Oratmangoen dan memasukkan Ivar Jenner untuk mengisi lini tengah . Formasi berubah, dan Indonesia kehilangan kemampuan untuk mengontrol permainan.
Selama lebih dari 50 menit, Indonesia bermain dengan 10 pemain melawan Malaysia yang terus menekan .
Perubahan yang Sudah Terlihat Sebelum Kartu Merah
Yang sering di lewatkan: Herdman sudah mengubah pendekatan dari laga pertama ke laga kedua.
Di laga melawan Singapura, Herdman menurunkan Mitchell Baker sebagai striker target. Di laga melawan Malaysia, Baker tidak di mainkan. Sebagai gantinya, Herdman memasukkan Thom Haye untuk menambah kreativitas di lini tengah .
Perubahan ini menunjukkan Herdman merespons kritik dari laga pertama. Ia mencoba menambah variasi serangan melalui kombinasi pendek, bukan hanya mengandalkan crossing.
Sayangnya, kartu merah menghentikan eksperimen itu sebelum benar-benar terlihat hasilnya.
Apakah Kritik Ini Beralasan?
Yang Valid dari Kritik
Kritik terhadap monotonnya serangan di laga pertama valid. Analisis Kompas menunjukkan Indonesia terlalu cepat mengarahkan bola ke sisi lapangan, lalu mengirim crossing, tanpa cukup variasi seperti wall pass, kombinasi tiga pemain, atau serangan melalui tengah .
Pola ini membuat serangan Indonesia mudah di prediksi. Ketika Singapura menutup area tengah, Indonesia tidak punya rencana B yang cukup kuat.
Yang Sering Di lewatkan
Yang sering dilewatkan adalah konteks laga kedua. Kartu merah Haye mengubah segalanya. Indonesia tidak bisa dinilai hanya dari 50 menit bermain dengan 10 pemain.
Herdman sendiri mengakui bahwa strategi menyerang dengan 10 pemain perlu diperbaiki. “Mungkin kami bisa lebih menyerang dengan formasi 10 pemain,” katanya .
Ini adalah pengakuan jujur, bukan pembelaan. Herdman tahu ada masalah, dan ia berencana membenahinya.

Apa Kata Herdman?
Herdman tidak menampik kritik. Ia justru mengakui ada aspek yang perlu dibenahi, terutama saat bermain dengan 10 pemain .
“Saya pikir satu-satunya yang perlu diperbaiki adalah aspek menyerang dari strategi ketika bermain dengan 10 pemain,” kata Herdman .
Ia juga menyebut bahwa saat masih bermain dengan 11 pemain, Indonesia tampil baik. “Kami punya beberapa momen bagus, gol yang dianulir dan sebagainya. Jadi, memang banyak hal bagus yang kami lakukan ketika masih bermain dengan 11 pemain,” ujarnya .
Untuk laga melawan Bangladesh, Herdman berjanji akan menyiapkan taktik lebih menyerang. “Formasi saat ini adalah formasi menyerang,” tegasnya .
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Herdman akan mengubah taktik melawan Bangladesh?
Ya. Herdman secara eksplisit menyatakan akan menyiapkan taktik lebih menyerang melawan Bangladesh. Ia ingin pemain berkualitas berada sedekat mungkin dengan gawang untuk menciptakan lebih banyak peluang .
Apakah Indonesia masih bisa lolos ke final?
Ya. Indonesia mengoleksi 4 poin dan berada di posisi kedua. Kemenangan atas Bangladesh akan menjaga peluang, dengan catatan hasil laga Malaysia vs Singapura menguntungkan .
Apa formasi andalan Herdman?
Herdman dikenal menggunakan formasi 3-4-2-1 dengan pressing tinggi. Namun di FIFA ASEAN Cup 2026, ia lebih sering menggunakan 4-4-2 saat bertahan .
Mengapa Indonesia kesulitan mencetak gol melawan Malaysia?
Faktor utama adalah kartu merah Thom Haye di menit 37. Indonesia harus bermain dengan 10 pemain selama lebih dari 50 menit, sehingga fokus beralih ke bertahan .
Kesimpulan
Kritik bahwa taktik John Herdman monoton tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya akurat.
Di laga pertama melawan Singapura, Indonesia memang terlalu bergantung pada crossing dari sisi kanan. Serangan mudah diprediksi, dan kritik terhadap monotonnya pola permainan valid .
Namun di laga kedua melawan Malaysia, Herdman sudah menunjukkan perubahan. Ia menurunkan Thom Haye untuk menambah kreativitas di tengah dan mencoba kombinasi pendek. Eksperimen ini berjalan baik di 25 menit pertama sebelum kartu merah mengubah segalanya .
Yang perlu diingat: Herdman sendiri mengakui kelemahan strategi dengan 10 pemain. Ini bukan tanda ia buta terhadap masalah, tetapi tanda ia tahu apa yang harus diperbaiki .
Laga melawan Bangladesh pada 1 Oktober akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika Herdman benar-benar menerapkan taktik menyerang yang ia janjikan, kritik tentang monotonnya taktik mungkin akan mereda.
Redaksi: GOLFUSSID